Terjebak (1)

Sudah sudah,
jangan sesali datangnya hujan yang terlanjur bermukim
biarkan saja ia berderai membawa kepingan sesal di satu waktu
biarkan saja ia menggenang

Kadang, aku teramat pongah betapa diri ini kuat
menyombongkan diri tak goyah dihantam badai suasana
menafikan arti kedip dan kata layaknya celoteh belaka
membiarkan bias kecil padahal diri teramat kerdil
berlindung pada sayap kalimat:
untung saya lebih muda
untung saya sudah bertameng
untung kita jauh.

Sudah sudah,
biarkan diri larut dalam bejana cerita nyata namun tak nyata
bermandi dengan puji, kerling, dan senyum
mengakrabi musim di suatu malam dimana kalimat penuh hikmat mengalir bersama
meski ada tameng kokoh berlabel kita itu...!!!!

Ah, dari mana harus ku mulai sebuah kisah
manakala ide tumpul tertabrak bilik kagum
yang berkembang pada musim subur,
menyatu dengan awan lalu membentuk hujan setiap akhir malam

Kadang, bahkan sering, kita itu kecil dan kerdil,
menyalahkan baris waktu yang menyita hati
lalu menyalahkan diri sendiri.

Padahal, ada tangan takdir istimewa yang bermuara.
setiap kisah dibangun oleh Kuasa,
kita yang menjalani dan berusaha untuk tetap bisa menikmatinya,
sepahit apapun rasanya.

0 Response to "Terjebak (1)"